Sorry kalo ada yang merasa terganggu dengan diskusi yang satu ini, tapi apalah gunanya jika forum yang sudah ada tidak dimanfaatkan secara optimal. saya tahu banyak orang NTT yang memiliki keahlian, minat, bakat ataupun pengalaman dan mungkin juga pendapat mengenai suatu peristiwa yang sedang terjadi sekarang atau kapan pun itu waktunya. forum ini memang tidak menjelaskan secara khusus mengenai hal-hal apa yang akan dibahas setiap harinya, atau degan kata lain tidak ada kegiatan rutin yang bisa dilakukan di forum ini. oleh karena itu marilah teman-teman semua yang mau/sudah bergabung dan dianggap sebagai academia bisa memberikan suatu kontribusi bagi forum ini. Ok bro!!
Trims ya None Irene..atas atensinya..inilah mimpi /impian saya dan Anda juga khan..saya mau begitu ada perhatian corporate pada masyarakat local tapi apa boleh dikata ini suatu perjuangan kedepan............ menjadikan mimpi itu menjadi kenyataan....Make Your Dream Come True....Apakah Non Iren mendukung....
CSR itu menu wajib tiap perusahaan di Indonesia (vide Pasal 74 UU PT No.40 Tahun 2007) dan ternyata hasil penelitian saya membuktikan bahwa tanggungjawab sosial perusahaan (CSR/Corporate Social Responsibility) itu baru dalam tahap charity (derma) ibarat Santa Claus membagi hadiah Natal. Orang mengatakan ya perusahaan bagi-bagi sembako, susu kepada org busung lapar misalnya itu sudah CSR ternyata itu baru dalam tingkat pertama dan yang paling bagus menjadikan CSR dalam tahap ketiga disebut corporate citizenship yakni mengundang semua warga berpartisipasi untuk mewujudkan keadilan sosial berdasarkan keterlibatan sosial.
Nanti baru disambung lagi..............
itulah yang ketong kuatirkan, karena pengalaman selama ini beta pung siswa dong prakerin Ipraktek kerja industri) yang mungkin juga dialami sekolah lain, kalau mereka prakerin di dunia usaha/industri ( DU/DI) hampir sebagian besar hanya memberikan pekerjaan yang bisa dikatakan terlalu ringan bagi siswa yang membutuhkan kompetensi tertentu. contoh: yang prakerin dibidang meubel, lebih banyak waktu dihabiskan untuk mengamplas saja.... atau bantu pegangin kayu, di bidang advertising, hanya bantu motong-motong kertas. di toko, hanya sebatas jaga toko/ jaga penitipan barang. mungkin dikantor (termasukkantornya kaka) hanya jadi pesuruh antar kertas, ambil ini-ambil itu....he he ) nah. memang beta punya pemikiran mungkin mereka takut dirugikan kalau harus melakukan pekerjaan yang agak beresiko bagi produk mereka. tetapi kalau hanya gitu aja, maka siswa kita disamakan dengan pekerja cleaning servis dong, padahal yang mereka butuhkan adalah kompetensi yang sesuai dibidang masing-masing. misalnya kompetensi untuk meubel, maka diharapkan siswa dapat melakukan produksi dari awal hingga finishing sesuai dengan kualitas dan sistem kerja yang diinginkan industri. giotu loh.........emang ada segelintir industri udah bagus sih..... nah beta sampai sempat berpikir, kalau satu waktu kelak seluruh perusahaan yang ada di NTT diwajibkan menjadi institusi pasangan bagi SMK-SMK yang sesuai dengan bidang garapannya masing-masing. sehingga industripun memiliki kepedulian dibingan pendidikan dan membangun investasi dibidang SDM tingkat menengah dan juga kepedulian pemerintah NTT untuk menyediakan SDM agar tidak ada pengangguran lagi........dari pada gembar-gembor mau menyediakan lapangan kerja..... loh la yang sebenarnya ada didepan mata aja sonde di kelola dengan jelas..... kami hanya butuh dukungan.....akses....untuk selanjutlah biarlah kami yang bekerja. gimana......... pusing ya......atau kaka punya akses untuk kearah sana ko?
wah kayaknya kita ada dalam satu kesepakatan. sorry lama tidak gabung, tapi kalau memang disepakati bahwa memang kita butuh sarana alternatif untuk memantau sekian perkembangan di ntt. di sisi lain sampai saat ini masih banyak keluhan tentang bagaimana susahnya beropini di pos kupang. kita bisa jadikan forum ini maju dalam hal sekian diskusi baik itu situasi politik, ekonomi, budaya atau apapun yang penting rasional dalam menanggapi sekian diskusi tersebut.
mengenai moderator tergantung kesepakatan kita, siapa saja yang penting mau ok-lah
ketika ada teman yang forward ke saya untuk bergabung dengan kampung academia ini, terbersit dalam benak saya apa sih manfaatnya? setelah saya daftar sebagai warga kampung academia ternyata cukup banyak manfaatnya. Kita bisa berbagi ceritera dengan semua yang tergabung dalam kampung ini. Ternyata org NTT banyak sekali yang merantau keluar daerah bahkan ke luar negeri. Semoga kita semua berhasil di tanah rantau tetapi jangan lupa akan tanah kelahiran kita sendiri ya..Ada satu pertanyaan dari saya, siapakah kepala desa untuk kampung kita ini ya?
Mari kita hidupkan forum ini................
KOMPAS.COM/IGNATIUS SAWABI
ilustrasi
/
Artikel Terkait:
Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Membaik
Proyeksi Indeks Persepsi Korupsi 2009 Capai 3,0
Indeks Persepsi Korupsi Ditentukan Oleh Layanan Publik
Layanan Publik, Tempat Korupsi Merajalela
Indeks Persepsi Korupsi Membaik, Rupiah Berpeluang Menguat
Rabu, 21 Januari 2009 | 14:26 WIB
JAKARTA, RABU — Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi kota terbersih pada 2008. Ini berdasar Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang diperoleh dari persepsi pelaku bisnis di Yogyakarta. Mereka menilai pemerintah daerahnya cukup bersih dan serius dalam usaha memberantas korupsi.
"Dari 50 kota yang disurvei dalam IPK Indonesia 2008, Yogyakarta mendapatkan skor tertinggi, yaitu 6,43," ujar Manajer Riset dan Kebijakan Transparency International Indonesia Frenky Simanjuntak dalam presentasinya di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (21/1).
Skor ini mengalahkan sejumlah kota besar lainnya, seperti Palangkaraya yang mendapat skor 6,1, Banda Aceh (5,87), Jambi (5,57). dan Mataram yang memperoleh skor 5,41. Frenky mengatakan, terpilihnya Yogyakarta sebagai kota terbersih dimungkinkan mengingat sejak 2006 dibentuk Dinas Perizinan yang merupakan pengembangan dari Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap (UPTSA). Hal ini, lanjutnya, juga disebabkan keberhasilan Pemerintah DIY dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Sementara itu, Kupang mendapat skor terendah, yaitu 2,97, disusul Tegal (3,32), Manokwari (3,39), Kendari (3,43), dan Purwokerto (93,54). "Skor terendah dicapai Kupang karena pada tahun-tahun sebelumnya di kota ini banyak terjadi kasus korupsi yang melibatkan pejabat dan anggota DPRD setempat," jelasnya.
Namun, survei ini menyamaratakan kota dengan perputaran uang tinggi dan kota yang memiliki putaran uang rendah. Menurut Frenky, TI dalam melaksanakan survei IPK ingin memberikan gambaran yang komprehensif secara nasional.
BOB
Share on Facebook - Beri Rating Artikel - ---------- Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang A A A Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Posting komentar anda
NamaEmailKomentar Security Code Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.