Kampung Academia NTT

Kampungnya orang kampung NTT

hi.....teman2 pecinta kampung academia NTT, mari kita membangun NTT dari tanah rantau tidak perlu kita harus pulang daerah setiap pilkada untuk mencalonkan diri. mari bersatu membangun NTT dari tanah rantau. masyarakat aerah sekarang makin cerdas, mereka memilih calon secara objektif bukan subjektif. maka kita yang mengenyam pendidikan atau bekerja di daerah lain jangan hanya pulang kampung saat ada pilkada. apa sumbangsih kita untuk NTT.

Share

Reply to This

Replies to This Discussion

menurut beta calon pemimpin NTT, mau itu Gubernur, walikota, lurah, camat, RT/RW harus orang daerah yang IQ,EQ,SQ nya baik
secara singkat
IQ =Intelektual
SQ=Keimanaan
EQ=Sikap dan Perilaku

takaran baiknya mungkin lebih tau psikolog kali ya..
penjelasan sedehananya mungkin seperti ini nih
IQ tinggi,SQ sedang,EQ rendah = Koruptor, Munafik, tidak loyal
IQ sedang, SQ tinggi, EQ sedang = Cukup baik tp monoton dalam bekerja
IQrendah, SQ sedang, EQ sedang = yang kayak gini NTT sulit berkembang
IQ tinggi, SQ tinggi, EQ tinggi = Mantaff bro

sekian dari beta,
akhir kata
No Bodys perfect!! ^_^

Reply to This

Masalah pencalonan diri sebagai pilkada tidak bersifat tertutup bagi siapa saja, asalkan siap tempur dengan hati nurani dan kredibilitas diri yg positif. kalau sahabat menanyakan apa sumbangsih untuk NTT logika pertanyaan sudah bersifat terbuka, yakni sebagai anak2 flobamora kita sama2 memiliki hak mencalonkan dan dicalonkan entah yang berdomisili di katong pung tanah tercinta ataupun anak rantauan, sehingga mungkin saja sumbangsih yang ingin diberikan anak rantauan adalah pulang dan membangun NTT. Terkadang jiwa anak2 rantauan tetap peka terhadap permasalahan setiap bidang kehidupan masyarakat NTT. seperti kata si RG no body's perfect, meski masih kelihatan lumpuh disana-sini tapi semua kita adalah manusia dan masyarakat NTT yang dinamis yang mau bertumbuh. Saya setuju klu masyarakat NTT makin cerdas dan jeli untuk melihat daya kepemimpinan, jadi klu mw mencalonkan diri berarti siap menerima tantangan demokrasi, karena siapa saja yang berani melangkah siap juga mengambil konsekwensi. Yang terpenting sama2 katong bagandeng tangan membangun nusa indah flobamora...

Reply to This

hallo bung itho.. sorry beta komen lg e..
kalo di bilang banyak orang kupang yang sukses diluar itu buanyak bgt loh..
tapi sayang, ada beberapa kekurangan pada budaya dan perilaku individu orang NTT yang mungkin saja di pengaruhi jg oleh budaya/pihak luar

1. kusuksessan yang di dapat dil luar tidak/kurang dikembangin di daerah sendiri..
kenapa bisa begitu??
a) karena SDM dan SDA yang terbatas di NTT
b) Pendidikan dan bakat seseorang membatasi pikiran inovatif dan kretivitas dirinya
c) adanya kecenderungan orang NTT terhadap budaya populer, yaitu budaya/trend populer yang muncul secara tiba2 dan menghilang begitu saja..

2. Pemerintah daerah yang kurang serius dalam penanganan daerahnya masing2, contohnya masih banyak korupsi, kecurangan2 dalam saringan masuk pegawai, baik itu PNS, POLISI, dsb. (sudah menjadi rahasia umum) hal2 seperti ini yang menyebabkan timbul rasa malas dalam persaingan secara positif..
sok atuh... mau di hitung ada berapa sih pengusaha2 muda asal NTT, kebanyakan semuanya mau jadi PNS kalo ga ya jadi polisi.. cari aman bro..

3. pada point ke2 diatas merupakan salah satu faktor orang NTT yang sukses diluar untuk tidak balik kampung, tp tetap rindu pada NTT... ^_^

sekian opini dari beta nanti kalo ada lg na baru b tulis e.

Reply to This

Sudah menjadi berita yang "lumrah" soal NTT miskin, NTT busung lapar, NTT buta huruf, daerah tertinggal, dan masih banyak litani Nusa Cendana ini mencadi topik2 berita hangat setiap tahunnya. Saya kira, persoalan mendasar yang melilit NTT (Baca pemerintah dan penduduk NTT) adalah masalah SDM. Kalau mau ditilik, kemampuan intelektual anak NTT tidak kalah saing dengan orang2 dari daerah lain baik di tingkat nasional, maupun di tingkat internasional . Hemat saya, NTT harus mau mengubah gaya dan pola pikir utk sistem pendidikan, yang intinya menamkan arti dan orientasi pendidikan "bukan hanya untuk menjadi PNS", melainkan sebagai suatu proses humanisasi, sehingga orang mampu berpikir aktif dan kreatif . Dengan itu, orang NTT bisa berpikir kritis untuk memanfaatkan semua potensi yang ada di bumi NTT, yang orientasinya demi kemajuan pribadi dan orang NTT itu sendiri, bukan cuman jadi PNS melulu.

Reply to This

Sungguh saya sangat setuju akan pendapat anda, karena kita jadi pusing juga kalau di tempat kita cari hidup sedang ribut pilkada , kita juga ribut ikutan mencalonkan diri di tanah kita lahir, lebih baik kita cari makna poditifnya , apa yang sebaiknya kita sumbangkan untuk NTT tercinta.

Reply to This

Sorry, maksudku mancari makna positifnya.

Reply to This

Membangun NTT? Mulai dari pendidikan. Ratusan tahun silam, Gereja atau missi sudah mendesain suatu sistem pendidikan yang baik, antara lain berbasis konteks NTT, namun dalam perjalanan waktu sistem pendidikan diubah doleh pemerintah dalam sistem proyek-proyek sehiingga peserta didik bukan menjadi tujuan pendidikan itu sendiri melainkan sebagai objek untuk menghabiskan anggaran dari pusat. Sebagaimana wilayah Indonesia lainnya, kita terjerat dalam lingkaran setan pengelolaan pendidikan. Karena itu kita perlu kembali menata sistem pendidikan yang berorientasi pada kompetensi (kualitas) peserta didik. Hal ini membutuhkan kerja sama semua pihak. Mentalitas korup aparat pemerintah dan swasta harus dikikis sekaligus menyiapkan SDM (guru) yang berkualitas.

Reply to This

Hasil survei menyebutkan Kupang daerah yang paling terkorup di Indonesia, saya terus terang malu dengan berita yang dimuat Kompas.Saya mau bertanya kepada para pejabat pemerintahan di Kupang dimana hati nuraninya?
Katanya orng kupang sangat Religius apa itu hanya tinggal kenangan ataukah sudah terbawa angin puting beliung?
Marilah kita bersama - sama membangun NTT tercinta dan jangan mengejar harta semata.Tanyakan pada hatinurani apa yangtelah kita perbuat bagi NTT tercinta ini dan bukan tanyakan apa yang telah NTT berikan kepada kita.

Reply to This

Saya setuju dengan tulisan Bung Daniel B Kotan. Sekitar tahun 50-60 an yang bisa masuk ke sekolah guru di Kupang (SGA) hanya murid2 yang pandai yang mempunyai prestasi baik. Tidak heran pada masa2 sesudah itu kita mempunyai kualitas guru2 yang luar biasa dedikasinya. Saya masih menikmati pendidikan yang baik , guru2 saya benar2 mendidik kami dengan pengetahuan yang maksimal.
However, sekitar awal tahun 80 an saya melihat kualitas guru2 baru mulai menurun. Saya pernah argued dengan guru geografi saya yang mengatakan Malang itu di Jawa Tengah. Saya ngotot bahwa itu salah, Malang itu di Jawa Timur, karena ayah saya melanjutkan studinya selama 10 tahun di IKIP Malang. Hasil akhir geografi saya tentu saja jelek karena saya dianggap melawan. Saya berhasil protes dan menghadap Pak Ismandar kepala sekolah saya waktu itru dan menjelaskan masalahnya.

Ayah dan Ibu saya yang mengabdi sebagai guru di Kupang selama 40 tahun (50's to 90's) juga pernah mengeluh tentang kualitas guru2 diakhir karir mereka. Banyak yang mengambil jalan pintas, katanya.

Korupsi di awal2 tahun 70an menurut saya tidak se parah sekarang. Bekas rektor Undana alm.Prof Syah, hidup dalam kesederhanaan setelah beliau pensiun sampai meninggal. Prof Likadja juga hidup sederhana.
Kalau sekarang, pensiun dari rektor Undana?, mungkin punya tabungan milyaran rupiah di bank :)
Banyak orang tua kita yang sekarang hidup sederhana walaupun dulunya mereka pernah menjabat kedudukan penting di pemerintahan.

Korupsi memang menghancurkan, untuk memeranginya mungkin kita bisa mulai mengajarkan di sekolah sekolah nilai nilai moral, tentang dignity, kebanggaan diri dalam berbuat baik.

Saya sebagai salah satu produk pendidikan di NTT (SD s/d SMA) ingin ikut berpartisipasi dalam pembangunan moral yang baik buat adik2 kita. Dalam waktu dekat ini saya akan ke Kupang dan memulai mendirikan perpustakaan dan pusat belajar buat anak2 di Kupang. Untuk sementara saya akan memakai rumah alm orang tua saya di Jl Lantana No 7 Kupang, sambil mencar-cari lahan yang tidak terlalu mahal untuk pengembangan library yang lebih besar.

Saya ajak semua masyarakat NTT yang sudah berhasil di manapun berada, yang menerima berkat lebih dari saudara2 kita di NTT, untuk bergabung dengan saya. Silahkan menumbangkan waktu anda untuk menjadi volunteer, mentor atau menyumbang buku2 bacaan yang menarik. Jika saya mendapat 1000 respon, dan semuanya menyumbang 1 buku, maka adik2 di Kupang akan menpunyai akses untuk membaca 1000 buku2 baru hasil kerjasama kita. Silahkan mengunjungi blog saya http://www.roniklibrary.org untuk informasi mengenai "how you can help"

"We care and we share"

Salam dari Seattle, USA
Nanik Martosudarmo

Reply to This

Setuju namun kalo diperantauan ingat juga orang kampung NTT kirim doi buat katong supaya doi itu busa pake untuk investasi usaha sehingga terjadi perputaran uang menjadi besar dan imbasnya ekonomi katong orang kampung jadi kuat, jadi orang merantau jangan simpan doi di sana sa tapi inga sisip sadiki ko tabung di NTT, yang barang 2 juta, 1 mlyard kalo coba 100 orang su berapa o.... ok...met berjuang orang merantau GBU ..bung....

Reply to This

Hmm..marilah kita membangun NTT dari tanah rantau...Betapa indahnya teory ini dibaca dan direnungkan..
Saudara/i..kita boleh bermimpi, dan kita tahu sendiri hasil mimpi itu pasti kosong !
Secerdas apapun pribadi kita, dan berapa banyak keuangan yg kita miliki, bagaimana kita bisa memproses secara efisien dan posible kedaerah ini? Bagaimana kita bisa melakukannya dari tanah orang atau dari jauh?
Sebagai kata RG intelectual is need it...
dan menurutku without moral is failed...
Kita membutuhkan orang2 yg benar2 komit, mebutuhkan pemimpin yg profesional dan memiliki moral yg tinggi ..sebagai pemimpin dia mampu meng-recruit atau menhimpun orang2 yg mempunyai watak yg sama, sebab kalau salah satu member yg memiliki watak yg tidak waras, hasilnya jadi nol besar !

Reply to This

ya tiap orang punya orientasi masing-masing. Pulangk ampung untuk pilkada pun menurut saya suatu usaha sumbangsih bagi daerah, terlepas dari benar tidaknya komitmennya.. Membangun dari luar daerah juga baik..sama baiknya..tapi mungkin bentuk konkretnya jika kita berada di luar daerah, cukup gunakan jaringan yang kita punya di luar NTT untuk setidaknya mencari akses-akses ke dunia bsnis agar bisa berinvestasi di NTT..atau info beasiswa bagi orang NTT dan lain sebagainya...setuju??

Reply to This

RSS

Latest Activity

November 10
November 3
Addie Nappoe bandung hujan lagi euy.....
October 26
Prisilia and Roy Riwu Rohi are now friends
October 25
Addie Nappoe i miss u kupang city....!!
October 22
eLis Runesi Lagi Sariawan nech...
October 22
RG pengen liat koment.. btw kok pada sepi sih? ayo dong.. jangn ditinggalin nih kampung :D mau sibuk sm fcbook tp ttp buka kampung NTT ok all..
October 21
Ricky Meco and alfred manehat are now friends
October 9

Badge

Loading…

© 2009   Created by masboi on Ning.   Create a Ning Network!

Badges  |  Report an Issue  |  Privacy  |  Terms of Service