mengamati upaya pembangunan PT SEmen Gresik Di Sukolilo, pati, jateng, semakin menegaskan bahwa thesis pembangunan pada masa orde baru yang memiskinkan dam melakukan proses marginalisasi terhadap rakyat bukanlah sekedar wacana kosong belaka.
dua minggu setelah berada di daerah kasus, ternyata banyak fakta yang terkuak bahwa totalitarianisme orde baru tidak hilang setelah reformasi, melainkan diwariskan dalam bentuk repressivitas aparatus negara.
penolakan sebagian besar rakyat terhadap pembangunan pt, semen gresik ternyata di putarbalikkan faktanya oleh pemerintah melalui media. pemerintah daerah ternyata yang paling kuat memaksakan kehendak dengan melakukan kekerasan terhadap masyarakat dan menolak.
masyarakat daerah sukolilo yang semenjak leluhur mereka cuma mengenal pertanian sebagai cara produksi mereka dihadapkan pd persoalan pelik dimana satu2nya sunber mata air dan daerah resapan yang mencegah membesarnya banjir di 5 kabupaten yang paling sering diberitakan banjir kalau musim hujan tiba.
asumsi kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi apalagi peningkatan pendapatan tidak lain merupakan kebohongan publik yang di hembuskan oleh pemerintah. bagaimana mungkin masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah di daerah tersebut akan diserap sebagai tenaga kerja pada industri pertambangan yang mengandalkan tekhnologi yang tinggi dan pengetahuan yang spesifik, sementara sistem produksi pertanian masyarakat dihancurkan secara menyeluruh.
berkaca dari kondisi di pati, kita perlu mencermati setiap kebijakan pembangunan berbasis eksploitasi pertambangan.
Tolak Pt. Semen grasik di Sukolilo menjadi sikap semesta rakyat Indonesia sebagai konsolidasi kerakyatan terhadap upaya pemiskinan negara terhadap masyarakat.
Tags:
Share
-
▶ Reply to This