Kampung Academia NTT

Kampungnya orang kampung NTT

Keputusan pemerintah menurunkan harga bahan bakar, yang berlaku mulai besok, merupakan langkah yang tepat. Dengan keputusan ini diharapkan terjadi efek ekonomi berantai yang segera dirasakan publik. Tapi efek itu sulit terjadi jika dua sektor penting, yaitu transportasi dan perbankan, tidak segera merespons dengan positif. Tanpa peran kedua sektor tersebut, upaya pemerintah menurunkan harga bahan bakar tak banyak dirasakan manfaatnya oleh publik.

Peran pengusaha sektor transportasi sangat dituntut karena merekalah simpul utama distribusi dan moda angkutan manusia. Dalam proses produksi, biaya transportasi diperkirakan mencapai 5 sampai 15 persen dari seluruh biaya produksi--tergantung jenis produk yang dibuat. Jika biaya ini bisa ditekan seiring dengan turunnya harga premium dan solar, harga jual produk seharusnya ikut turun.

Tapi logika itu sulit berjalan karena pengusaha transportasi memiliki argumen lain. Argumen mereka adalah, biaya bahan bakar hanya sebagian kecil dari seluruh biaya yang harus mereka keluarkan. Biaya di luar bahan bakar itu, misalnya, pembelian suku cadang, biaya perawatan dan perbaikan kendaraan, pajak, juga retribusi. Dengan adanya argumen inilah, upaya pemerintah mengajak pengusaha sektor transportasi berunding untuk segera menurunkan tarif angkutan sering berlarut-larut. Akibatnya, publik tidak langsung merasakan dampak penurunan harga.

Lambannya proses penurunan tarif inilah yang harus dipercepat. Pengusaha transportasi mestinya bisa lebih adil. Ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar rata-rata 28 persen pada Mei 2008, pengusaha transportasi menuntut kenaikan tarif sampai 50 persen.. Kini, saat harga bahan bakar turun rata-rata 21 persen, permintaan pemerintah agar pengusaha transportasi menurunkan tarif hingga lebih dari 10 persen sebetulnya masih wajar dan tak akan merugikan mereka.

Yang juga perlu didorong untuk merespons penurunan harga bahan bakar adalah kalangan perbankan. Bank Indonesia sudah menurunkan tingkat suku bunga acuan sebesar 50 basis point dari 9,25 ke 8,75. Penurunan itu tergolong besar sehingga diharapkan mampu membuat suku bunga bank ikut turun. Tapi situasi bisnis yang dianggap masih berisiko tampaknya membuat kalangan perbankan cenderung hati-hati. Ini terlihat dari masih tingginya suka bunga perbankan. Bunga Kredit Pemilikan Rumah, misalnya, masih bergerak di kisaran 15-17 persen per tahun--jauh lebih tinggi dibanding tingkat bunga saat sebelum krisis ekonomi global, yang berkisar 9-10 persen.

Memang tidak mungkin berharap kalangan perbankan segera menurunkan tingkat bunga, karena faktor yang harus diperhitungkan dalam bisnis ini jauh lebih kompleks. Tapi cukup masuk akal jika sekarang, saat pemerintah sudah memberi begitu banyak stimulus, kalangan perbankan berani secara bertahap menurunkan suku bunga pinjamannya. Dengan penurunan suku bunga, roda ekonomi akan berputar lebih cepat. Peluang untuk kembali bergairahnya pasar domestik pun akan terbuka, sehingga pengusaha sektor industri dan manufaktur bisa mengalihkan pasar ekspor yang kini sedang lesu akibat krisis global ke pasar lokal.

Share

Reply to This

Latest Activity

November 10
November 3
Addie Nappoe bandung hujan lagi euy.....
October 26
Prisilia and Roy Riwu Rohi are now friends
October 25
Addie Nappoe i miss u kupang city....!!
October 22
eLis Runesi Lagi Sariawan nech...
October 22
RG pengen liat koment.. btw kok pada sepi sih? ayo dong.. jangn ditinggalin nih kampung :D mau sibuk sm fcbook tp ttp buka kampung NTT ok all..
October 21
Ricky Meco and alfred manehat are now friends
October 9

Badge

Loading…

© 2009   Created by masboi on Ning.   Create a Ning Network!

Badges  |  Report an Issue  |  Privacy  |  Terms of Service