Beberapa bulan lalu saya tak sengaja membeli salah satu jurnal yang banyak bebicara soal Gender topik yang coba saya dalami beberapa waktu belakangan ini. Menarik memang membaca atau membicarakan sesuatu yang juga pas di hati dan memang pada saat ini topik Gender dan Cultural sangat menarik bagi saya. San betapa kagetnya saya, sengai orang Mollo yang lama tidak tahu kondisi terakhir tanah selahirang saya, dan kini didepan mata saya terpampang jelas sesuatu yang bagi saya mengusik pikirang saya yang sudah lumayan dipenuhi berbagai hal berkaitan masalah Gender, Lingkungan Hidup, Global Warming,Ketidakadilan,dll.Hal yang membuat dada saya sesak. Yang menarik perhatian itu justru karena sesuatu yang saya tidak ketahui tentang masalah yang cukup krusial di daerah saya sendiri. Sosok Aleta Baun seakan membangunkan saya dari ketidakpedulian saya terhadap tempat saya lahir.Lantas terusik, akan saya kemanakan saja ilmu yang saya dapatkan selaman ini kalau bukan berbuat sesuatu demi berkembangnya derah saya.Saya harus berbuat sesuatu. Saya kemudia mencoba menalar lebih jauh soal masalah penambangan Marmer di Mollo dan tentu saja latar dari aksi penolakan Aleta Baun juga masyarakay Mollo pada umumnya. saya mencoba mencari informasi lain diluar Jurnal itu, Beruntung media internet sangat membantu saya dalam mencari deretan informasi berkaitan penambangan marmer-ketidakadilan juga kearifan lokal.Banyak hal yang kemudian membawa saya pada sebuah kesimpulan, bahwa ada pro dn kontra di sana. Dan saya dengan kondisi yang ada toh kemudian menguatkan pendirian saya, bahwa ada kesalahan yang dibuat,ada sejumlah kejanggalan yang menyertai proses penambangan marmer itu.Banyak yang diuntungkan tapi kita juga jangan menutup mata bahwa ada sekelompok orang yang justru dikesampingkan haknya. Bagi saya hal ini yang patut kita kaji bersama. Pertama, sesuai dengan pengalaman kita di Indonesia,bahwa praktek penipuan, ketidakadilan justru sudah mengakar lama di negara kita. Berkaitan dengan penambangan di Mollo, lihat saja kasus lain yang serupa di tempat lain (Besambung)
Beberapa Puisi yang saya buat atas dasar keprihatinan terhadap seorang Aleta Baun yang harus menerima konsekuesi diperlakukan tidak adil karena maksud baiknya!
Ibu,
Aku membaca berita tentangmu minggu lalu.Dan itu
membuatku miris berlapis salut yang
dasyatnya menggetarkan sisi emosiku!
'' makam nenek moyang kita akan dibongkar.
Disedot sampai memar. Hanya karena pusaranya
menyembulkan susu berlimpah. Kau menyebutnya
payudara yang hidup.''
Terbesit tanya : kau tahu arti hidup dan serakah,Ibu ?
Ibu
kau tentu tak lupa ribuan tahun sudah gugusan itu dibangun,
disusun dari rupa-rupa payudara.
Alhasil pinggang-pinggang seantero hutan berisi.
Sekaligus mengundang nafsu.
Aku tahu karya itu diawali saat purnama
yang gundah menggerakan tangan-tangan kasar
memetik pucuk-pucuk embun dan memasukkanua
dalam tudung sampai putih, kental dan kekal!
Dan untuk itu tak ada campur tangan kakek moyangmu.
Aku menyebutnya bapak pertiwi. Ini lucu.
Benar-benar membuatku tertawa atas kelakianku
yang kadang ceroboh dan sok hebat!
Yah, ada jeda sedetik untukku tertawa
( kegembiraanku sudah lama dicuri. Kala
adalah sedih yang melingkar, memikirkanmu)
Terbesit tanya : Adakah yang serakah itu punya hati,Ibu ?
Ibu yang malang,
kau tahu waktu dulu ribuan malam adalah
air mata yang mengairi seantero hutan sampai
gundukan itu penuh. Aku tertawa lagi.Karena
masih banyak manusia yang rakus merasa terancam
karena hatimu dan cintamu pada bau tubuh nenek moyang kita.
'' aku selalu membaca slogan
tipuan : ...demi kesejahteraan kita,rakyat banyak!''
Tersentil tanya : Kita??? Lu aja kaliii gue engak! Ya,Bu?
Ibu, berita ini membuatku terkurung sedih.
Kita masih dijajah yah,bu?
Disaat pemimpin berteriak, Merdeka!!!
Beruntung kita masih punya hati.
Lucu ya,Bu. Kau malah lebih peka soal
kesejahteraan, kemerdekaan, keadilan sosial,
global warming, daripada yang mengaku diri sarjana,
kaum intelektual,agamawan atau politikus.
Terbesit tanya lagi : Adakah pemimpin yang
masih punya hati, Bu?
Ibu,
aku heran tentang kabar kau dikejar-kejar preman!
Siapa mereka, Bu? Orang benar ?
Kasihan kalo mereka benar tak punya hati lagi.
Aku malu dengan diriku
yang masih menutup mata. Ini tak adil.
Aku melihat hatimu terjerat di mulut Neokolonialisme,
penjajah baru!
Tak kalah kejam dengan Londo*
Ada tanya : siapakah penjajah itu?
Ibu
aku mengkhawatirkanmu
tak bisa memetik embun untuk menyusui anak dan suamimu
Kau punya hati
Jaga itu!
Yogyakarta, 21 April 2008
Tags:
Share
-
▶ Reply to This