Bulan juni 2009 adalah bulan yang penuh fenomena. Ajang kampanye Capres dan cawapres untuk merebut hati konstituen untuk memilih. Masyarakat pemilih berada dalam kebingungan untuk memilih siapakah capres cawapres terbaik. Masing-masing pasangan memberikan keunggulan dan janji-janji untuk meperbaiki kehidupan bangsa ini. Dari aspek ekonomi, sosial, pendidikan hankam hingga pada aspek yang sangat privasi sekalipun disentuh sebagai upaya untuk merebut hati pemilih. Tapi sudahkah masyarakat pemilih menentukan pilihannya?
Pilpres dan Pileg kali ini merupakan ajang politik termahal selama sejarah perjalanan bangsa ini. Masyarakat yang menjadi obyek dan subyek pemilih hanya menonton, mendengar dan melihat apa strategi yang dilakoni oleh para elite politik untuk merebut hati pemilih. " Kami bingung mau pilih yang mana. Semua calon menyuguhkan janji-janji perbaikan kehidupan. Kami dilema mau tentukan siapa karena mereka datang dengan 1001 janji yang kadang membuat kami terlena. Pasangan Megapro datang dengan janji perhatikan kehidupan petani, SBY-Budiono datang dengan strategi dan kebijakan ekonominya, JK-Wiranto juga datang dengan janji perbaikan ekonomi masyarakat di daerah terpencil, Jadi kami bingung untuk memilih". Itulah sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh pedagang sayur di seputaran pasar oeba.
Kebingungan masyarakat ini merupakan fenomena politik untuk menilai siapakah yang terbaik. Dalam bahsaa Ende lio ada suatu istilah/peribahasa yang berbunyi " gale-gale baru pate, ngilo-ngilo baru si'o". dengan terjemahan bebasnya adalah lihatlah dengan baik, perhatikan dengan benar, pertimbanbangakan dengan matang barulah memilih.
Ungkapan tersebut memang terkesan kuno namun mengajarkan kepada masyarakat untuk mempertimbangkan secara baik dan benar dalam menentukan pilihannya. How is the best?. Siapakah yang terbaik. Inilah pertanyaan yang akan terjawab pada 8 juli nanti. Karena klaim sebagai daerah yang menjadi kantong suara dari ke tiga paket caprea dan cawapre masih dalam status abstrak. Walaupun disatu sisi berbagai hasil survey yang mengumumkan keunggulan dari salah satu paket tetapi masyarakatlah penentunya
Kelemahan selama ini dalam pendidikan politik di negeri ini adalah masyarakat hanya dijadaikan obyek untuk meraup suara sebanyak-banyaknya tetapi tidak di berikan pendidikan/sosialisasi secara simultan untuk menilai dan memilih seperti apa calon terbaik. Sebagai subyek pemilih masyarakat harusnya dilibatkan untuk menyampaikan aspirasinya dan juga perlu ada tindakan nyata dengan kontrak sosial / kontrak politik antara pemilih dan yang dipilih. Agar janji bukanlah janji belaka tetapi janji yang akan ada faktanya.
Sehingga di juni 09 ini, janji-janji yang disuguhkan kepada masyarakat pemilih mungkin bisa tinggal janji ataupun hanya menjadi kenangan bagi pemilih bahwa sejarah pilpres maupun pileg di negeri ini adalah sejarah yang penuh janji.
Tags:
Share
You need to be a member of Kampung Academia NTT to add comments!
Join this social network